Warisan Dalam Adat Jawa

Ada satu hal, yang cukup sering ditanyakan kepada saya, tetapi belum pernah saya bahas. Yaitu soal warisan. Ada kalanya orang bertanya kepada saya, soal pembagian waris dalam keluarga.

Biasanya orang yang bertanya ini, merasa situasinya tidak adil. Contoh: orang tuanya meninggal. Dan harga benda peninggalan orang tuanya, dikuasai sepihak oleh salah satu saudaranya. Maka orang ini pun bertanya kepada saya, apakah yang seperti itu boleh. Apakah memang adatnya seperti itu?

Terlebih dulu tentu saja, perlu saya sampaikan bahwa saya bukan ahli hukum. Orang mengenal saya sebagai seorang praktisi kejawen, maka pertanyaan semacam ini hanya dapat saya jawab, menurut kurang lebihnya adat masyarakat Jawa.

Secara pribadi sendiri, saya merasa bahwa urusan warisan, bukanlah sesuatu yang patut kita persoalkan. Karena warisan itu bukan milik kita, bukan hasil kerja keras kita. Kalau memang kita dikasih, ya syukur Alhamdulillah. Kalaupun tidak, ya tidak apa. Karena memang dari awal, harta benda ini bukan punya kita.

Misalnya pun, kita ada di posisi orang tua, kita punya harta benda yang nantinya bisa ditinggalkan, maka seharusnya kita punya hak, mau memberikan harta benda ini kepada siapa. Kita berhak meninggalkan warisan ini kepada siapapun yang kita mau, karena harta benda ini tadinya kita cari dengan keringat kita sendiri.


Baca Juga :


Tapi tentu saja, dalam kenyataannya, situasi di lapangan tidak pernah sesederhana itu. Bahkan bisa jadi, Anda pernah mengalaminya sendiri. Ribut dengan saudara soal warisan. Padahal sang orang tua yang berpulang, makamnya pun masih merah.

Jadi sebenarnya, kalau menurut adat Jawa, pembagian waris ini baiknya seperti apa? Dalam masyarakat Jawa, maka semua anak berhak mendapatkan warisan. Dengan pembagian yang sama. Kalau anaknya ada tiga, ya rata dibagi tiga. Bila anaknya ada empat, ya rata dibagi empat.

Tetapi dalam perjalanannya kesini, ada juga yang menganut asas sepikul segendongan. Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah, anak laki-laki mendapatkan dua bagian, sedangkan anak perempuan mendapatkan satu bagian.

Jadi anak perempuan, hanya mendapatkan setengah dari apa yang didapatkan saudara laki-lakinya. Kurang lebih seperti pembagian waris dalam hukum islam. Seperti ini ada, tetapi biasanya bukan cara ini yang dipakai.

Pada dasarnya, yang menjadi ahli waris utama, adalah generasi berikutnya, yang paling karib, dengan pihak yang mewariskan. Pihak yang mewariskan ini contohnya adalah orang tua. Biasanya, yang paling karib ini tentu saja adalah anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga tersebut. Istilahnya adalah brayat, alias keluarga satu atap. Terutama anak kandung.
Sedangkan untuk anak yang tidak tinggal bersama, maka tidak dianggap sebagai ahli waris utama.

Namun ada juga masyarakat Jawa, dimana anak angkat tetap mendapatkan warisan dari kedua orang tuanya, baik orang tua kandung atau orang tua angkat. Terutama bila anak ini telah lama tinggal dan dirawat oleh orang tuanya tersebut.

Lalu, jika tidak ada anak, bagaimana? Jika tidak ada anak, maka hak waris akan menjadi milik orang tua. Dan jika orang tuanya sudah tidak ada, barulah turun kepada saudara-saudara dari orang yang meninggalkan warisan ini. Kurang lebihnya seperti itu.

Belakangan ini, saya yakin Anda juga semakin sering menjumpai, orang tua mulai membagikan harta benda peninggalannya, dalam keadaan masih hidup. Karena memang untuk menghindari pertikaian yang terjadi, bila nanti orang tuanya ini sudah tidak ada.

Cara semacam ini, saya rasa bisa menjadi solusi yang baik. Karena memang ada rasa tidak pantas, jika kita kehilangan orang tua, tapi yang diributkan justru warisannya.

Semoga tidak pernah terjadi pada Anda, dan semoga apapun perselisihan yang terjadi dalam keluarga, dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Kurang lebihnya demikianlah yang dapat saya sampaikan.